|
Ini adalah tulisan dari salah satu arsitek yang baik Pak Sonny Sutanto, mungkin bisa kita jadikan masukan yang berarti dalam membangun karir untuk menjadi arsitek yang baik.. (telah di posting di milist forum AMI)
membangun karir sebagai arsitek: 1. Sebagai arsitek, saya selalu berusaha untuk memihak proyek dan tujuan proyek. Bukan klien ataupun reputasi pribadi. Tunjukkan ini, biasanya klien bisa melihat bahwa usulan2 yang kita ajukan adalah untuk kebaikan proyek tsb. Soal selera dan kehendak2 pribadi menjadi sekunder. Arsitektur dan profesi arsitek adalah profesi yang berbeda dengan seorang seniman. Apa yang kita buat, langsung berakibat, bukan hanya pada pemberi tugas, tetapi pada tempat karya kita hadir, pada rentang waktu yang panjaaaaang. 2. Seringkali “kesalahan” kita adalah pemaksaan kehendak tanpa dasar. Sehingga yang terjadi tidak lebih dari debat kusir soal selera. klien maunya A, arsitek maunya O. Itu soal “Want” kata Papanek, bukan soal “Need”. 3. Jangan mengerjakan tugas dengan vested macam2. Tuntut hak secara wajar, baik imbalan Fee dan pengakuan. Dan hargai rekan sejawat. Saya sangat sengit melihat betapa banyak kantor2 arsitek (kelas Star), dan “Star Architects”, tidak memberi pengakuan wajar atas kerjasama sejawat dalam tim. Terutama dalam penerbitan2. Sebaliknya ada juga pribadi2 yang mengklaim karya atas nama pribadi, padahal dikerjakan dalam biro2. 4. Bangunlah tim yang solid. Mengajar di kampus merupakan pintu untuk mengintip kemampuan para junior. Berkeliling dari kampus ke kampus, adalah kesempatan membandingkan kekuatan setiap kampus. Ini memberi pandangan, tipe apa yang dibutuhkan pada kesempatan apa. Rekrutmen adalah urusan jangka panjang. Anda menanam benih, kekompakan dibina bersama, lewat proses “nyantrik” bersama. Minimal butuh 3 tahun untuk membentuknya. Mengajar juga memberi kesempatan berhubungan dengan bermacam karakter, kesempatan baik untuk mengasah kemampuan berkomunikasi. Setahun, saya ketemu 200an orang2 baru untuk pertama kali. Saya menjadi memiliki ketajaman untuk menilai karakter, walalupun tetap ada melesetnya. 5. Partnership adalah hal yang tidak mudah, kecuali anda punya jiwa besar, saling tenggang, dan partner anda memilik kekuatan dan interes yang berbeda. Angka 3 (lihat HOK, SOM, DCM-Australia, KPF) adalah jumlah yang kurang lebih tepat. coba baca cerita ttg mereka, anda akan temukan hal itu. 6. Komunikasi dengan klien, dibangun atas dasar penghargaan. Bukan soal mau didikte atau tidak, tapi lebih tentang apa yang ingin dicapai oleh sebuah “keinginan”. Jika klien saya meminta saya merubah sesuatu, saya selalu tanya dia…mas, mbak, pak. bu….. tujuan akhir permintaan anda apa sih..? Jangan cepat2 mengiyakan atau menolak. Konsep itu penting, utama. Konsep itu yang membedakan sebuah karya punya kandung inovasi, desain, atau sekedar karya enjinering…!. Pinter ngomong bukan konsep ! Kenali klien anda, dimana “soft and hard spot” nya. Jangan tekan titik yang salah, bisa berakibat fatal. Nyatakan usulan dengan integritas dan otoritas yang tidak memaksa. Seperti dokter, anda tawarkan obat, dan alternatif2 obat-pengobatan lainnya. Jika ditolak, yang rugi kan klien. Dokter top saja sering menemui klien bandel…! 7. Jangan takut gagal, jangan mudah patah arang. Baca sejarah hidup para arsitek “besar” dunia. Rata2 hanya 20% karyanya yang bisa dimasukkan kedalam hitungan masterpieces. Tentu ada beberapa anomali. Dan semua pernah gagal…! 8. Tentu ada klien2 yang cuma cari tukang gambar. Pada level “survival”, dimana ada kebutuhan ekonomi, pengetahuan dan kemampuan dan portfolio masih terbatas. Jalankan saja, pakai kesempatan belajar jadi drafter yang baik. Kesempatan akan datang lewat proyek2 yang berhasil diselesaikan. Semua arsitek harus mampu me-draft dengan baik untuk menguasai masalah2 arsitektur secara holistik. Pada level anda sudah memiliki posisi tawar dan kesibukan yang luar biasa. Ambil pilihan. 9. hati2 dengan publikasi yang terlalu dini. Itu akan menjadi “cap” untuk anda2 semua. jangan terlalu cepat ingin dikenal. Berusahalah mematangkan diri. Beri waktu, minimal 10 tahun, baru muncul. Sementara, asah terus pikiran, perasaan,kemampuan dan emosi. Belajar adalah soal seumur hidup. 10. Tunjukkan diri lewat pemikiran2. Sering2 menulis di media2. hadir di pembekalan pembelajaran berkelanjutan. Baik IAI, AMI, di kampus2, pameran2 dlsb. Asah kesadaran anda sebagai sebuah pribadi yang unik, berada dalam kultur, waktu dan tempat yang specifik, dalam pergaulan budaya international yang terbuka. Tempatkan diri secara tepat dengan mengenal kekuatan, kelemahan dan interest pribadi. Jangan lupa menempatkan semua di bawah kesadaran, bahwa kita adalah mahluk ciptaanNya, yang diberi kesempatan dan hak untuk berada di muka bumi bersama dengan berbagai tipe manusia mahluk dan alam tempat kita berada. 11. Anda akan dikenal lebih karena karya2 dan pemikiran arsitektural anda. Tidak perlu sibuk2 mencari popularitas di tempat lain, kalau ingin dikenal sebagai arsitek. Berkaryalah. Bangun citra sebagai penjunjung etos kerja yang baik. Tiru guru2 yang meneladani hal itu. Jangan dendam pada orang2 yang telah”melukai” anda, baik para rekan, guru sadis dlsb. Mereka bisa anda jadikan contoh untuk tidak diteladani. Ada buku bagus, Robert Fulghum “All I need to know, I have already learned in the kindergarten” silahkan baca. Selamat membangun karier. Sonny Sutanto
|
maaf bung admin... saya pake huruf 'm...
re: - hellooo... oom, mau tanya, kok...
hellooo... oom, mau tanya, kok gw ga...
Update - perkembangan terakhir: poton...
waduh...sejujurnya kalo yang pertama&...
ceritane sambil menyelam minum kopi b...
re: - P-erlu K-ebersamaan S-emua.. ...
P-erlu K-ebersamaan S-emua..
Waaaw.. mantap nih om admin. Blm bis...
lanjutkan...!!